Surat Al Mujadillah ayat 11 Tentang Ilmu pengetahuan
Mei 26, 2019
Edit
Surat Al Mujadillah tentang Ilmu pengetahuan yang sangat penting !!
Penjelasan
Surat Al Mujadillah ayat 11 ini menerangkan tentang etika (sopan santun) bila berada dalam suatu majelis dan kedudukan orang yang beriman, serta orang yang berilmu pengetahuan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya : Hai orang orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : "Beralpang lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah untukmu. Dan apabila dikatanan : "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaiya Allah akan meninggikan orang orang yang beriman di antaramu, dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan ."
(Q. S. Al Mujadillah : 11)
Penjelasan
Surat Al Mujadillah ayat 11 ini menerangkan tentang etika (sopan santun) bila berada dalam suatu majelis dan kedudukan orang yang beriman, serta orang yang berilmu pengetahuan.
Ayat ini turun berkenaan dengan suatu peristiwa, yaitu ROSULULLAH pada suatu hari, yakni hari Jum'at sedang berada di Shuffah (yaitu ruang tempat berkumpul dan sesekali di jadikan tempat tinggal sementara sahabat yang tidak mempunyai rumah tinggal) Tempat itu agak sempit, para Sahabat baik dari kalangan Anshor maupun Muhajirin telah berkumpul mengelilingi Rasulullah SAW. beberapa sahabat yang mengikuti perang badar telah hadir. kemudian datang pula yang lain, mereka yang baru datang memberi salam, dan Rosul pun serta sahabat menjawab salam tersebut, tapi mereka yang datang lebih dahulu (yang sudah duduk) tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya, sehingga mereka yang baru datang berdiri terus, melihat hal itu Rosulullah merasakan kurang senang karena di antara yang baru datang itu ada sahabat sahabat yang mendapatkan penghargaan istimewah dari Allah, mereka turut dalam perang badar.
Akhirnya Rosulullah bersabda kepada para sahabat "Hai fulan ! berdirilah engkau !" lalu beliau suruh duduk ahli Badar yang masih berdiri itu, Tapi yang disuruh berdiri ada yang wajahnya menunjukkan ketidaksenangannya dan orang munafik yang turuthadir ada yang membisikkan celaaanya seraya berkata "itu perbuatan yang tidak adil" demi Allah, padahal ada orang yang dari semula sudah duduk karena ingin mendekat dan mendengar, tiba tiba di suruh berdiri dan tempatnya diduduki orang yang baru datang " melihat yang demikian Rasulullah bersabda :
Artinya :
Dirahmati Allah seseorang yang melapangkan tempat buat saudaranya (H.R. Abu Hatim)
Maka turunlah ayat di atas. inilah sebab turunnya ayat di atas menurut Muqatil Bin Hubban.
Dalam satu majelis tentu ada orang yang datang terlebih dahulu sehingga tempat duduk bersama itu sudah terisi dan kelihatan sempit, karena sempitnya itu orang yang datang kemudian tidak lagi mendapat tempat, lalu di anjurkan oleh Rosulullah agar yang duduk terlebih dahulu melapangkan tempat bagi yang datang kemudian.
sebenarnya yang sempit itu bukanlah tempat, melainkan hatinya. tabiat seseorang yang mementingkan diri sendiri , membuatnya enggan memberikan tempat kepada orang yang baru datang, jadi, dalam hal ini "Hati" sangat berperan, contoh
Akhirnya Rosulullah bersabda kepada para sahabat "Hai fulan ! berdirilah engkau !" lalu beliau suruh duduk ahli Badar yang masih berdiri itu, Tapi yang disuruh berdiri ada yang wajahnya menunjukkan ketidaksenangannya dan orang munafik yang turuthadir ada yang membisikkan celaaanya seraya berkata "itu perbuatan yang tidak adil" demi Allah, padahal ada orang yang dari semula sudah duduk karena ingin mendekat dan mendengar, tiba tiba di suruh berdiri dan tempatnya diduduki orang yang baru datang " melihat yang demikian Rasulullah bersabda :
Artinya :
Dirahmati Allah seseorang yang melapangkan tempat buat saudaranya (H.R. Abu Hatim)
Maka turunlah ayat di atas. inilah sebab turunnya ayat di atas menurut Muqatil Bin Hubban.
Dalam satu majelis tentu ada orang yang datang terlebih dahulu sehingga tempat duduk bersama itu sudah terisi dan kelihatan sempit, karena sempitnya itu orang yang datang kemudian tidak lagi mendapat tempat, lalu di anjurkan oleh Rosulullah agar yang duduk terlebih dahulu melapangkan tempat bagi yang datang kemudian.
sebenarnya yang sempit itu bukanlah tempat, melainkan hatinya. tabiat seseorang yang mementingkan diri sendiri , membuatnya enggan memberikan tempat kepada orang yang baru datang, jadi, dalam hal ini "Hati" sangat berperan, contoh
- ketika kita sedang di sebuah kendaraan umum dan mendapat tempat duduk setelah itu banyak orang lain yang naik mereka tidak dapat tempat duduk , di antara mereka ada laki, wanita, tua, mudah hati kita ibah melihat nenek berdiri bergelantungan di kendaraan, untuk itu kita persilahkan duduk di tempat kita, maka dengan tulus kita ajak duduk bersama sama , karena hati lapang, maka tempat duduk yang sempitpun akan menjadi lapang, bahkan kita bangga menolongnya lebih lebih orang yang kita lihat itu orang yang kita hormati dan di segani
